Tulisan ini sebenarnya gue bikin secara offline di MS word pada hari rabu, 13 November 2013 lalu. Saat itu gue masih dalam status pacaran dan emang lagi galau-galaunya sama dia. Lagi berada di ujung tanduk sepertinya. Kemungkinan untuk terselamatkan sangatlah kecil. Dan emang sekarang gue udah putus sama dia. Tapi ya udah, daripada gada postingan, mending gw copas aja tulisan gue ini ke blog. Toh isinya masi curhat-curhat juga.. :)
Nyok ah, nyanyi dulu bentar tapi.
Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi dibalik awan hitam,..
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini
Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda…
Itu adalah sepenggal lirik lagu dari Band Efek Rumah Kaca,
yang berjudul Desember. Lagu ini cocok banget didengerin di suasana hujan lebat
kayak gini (tepat saat gue nulis ini, hujan sedang turun dengan lebatnya).
Dear diary,
Let me tell you about my story, I know it’s rather sad. But
that’s the way I feel.
Dear diary, I don’t know if this is right or wrong, start it
thinking of leaving her, but I’m afraid it might hurt her.
Tulisan bahasa inggris di atas juga sebuah lirik lagu,
judulnya Dear diary dari Mocca. Kenapa gue nulis lagu itu? Isi lagunya ngepas
sama kondisi gue sekarang. Gue sedang dilanda kegalauan dalam hal pacaran. Tapi
ini bukan galau sedih, lebih tepatnya gue sedang berada di titik jenuh.
Maksudnya?
Tepat 12 November kemarin, usia pacaran gue sama dia sudah
15 bulan. Namanya Mentary, si hitam manis, pengagum gila Ariel Noah, saking
ngefansnya kadang gue bosen dengerin ceritanya yang berbunyi noah,,,noah..noah.
Akhir-akhir ini sangat aktif di komunitas fanbase nya noah di bekasi. Dan
semenjak dia aktif di komunitas itu dia jadi beda, jadi lebih cuek. Gatau
mungkin karena di sana dia banyak nemuin teman baru, cowok baru lebih tepatnya
yang satu selera dalam hal idola. Efeknya gue ngerasain dia bukan mentary yang
pas awal gue kenal yang jinak dan pendiam. Sekarang dia menjadi lebih liar dan
gue jadi sering ngerasa sepi terlebih saat dia sedang asyik kumpul2 sama teman2
komunitasnya atau nonton konser band idolanya live. Punya pacar tapi kok
rasanya lebih parah dari pada jomblo, itu yang gue rasain. Dia selalu asyik
sendiri dengan kesibukannya. And that’s make me so “jengkel”.
Kita sama-sama cocok
awalnya, kita sama-sama sayang dan gak ragu ketika saling panggil dengan
sebutan sayang. Gue sih sering manggil dia dengan sebutan “jore” (dalam bahasa
sunda artinya “jelek”), dia pun juga sama kadang manggil gue dengan sebutan
gitu “re…re…jore”. Dan buat pendewasaan gue suka nyebut diri gue ke dia dengan
sebuatan “kaka” gak jarang dia juga suka manggil gue dengan sebutan khasnya
“kamand” (kak rusman). Kita udah sama-sama cocok walaupun banyak intrik dan polemic
diantara kita, kita sering berantem walaupun gak lama, dan setelahnya kita
kembali mesra penuh canda tawa. Emang kita tuh beda, secara karakter, gue yang
cemburuan-dia yang cuek, sama-sama suka music, namun selera musik kita beda dan
gak pernah nyambung ketika kita mau ngomongin music kesukaan
masing-masing. Hah…masa Cuma karena soal
selera music beda aja jadi sering berantem. Agak lucu emang. Detailnya gue
certain nanti.
Nyambung tentang jenuh tadi, sampai pada suatu hari dia
bilang bahwa dia bosen dengan pacaran kita yang begini-begini aja, gak ada
variasi mungkin. Agak sakit memang hati gue waktu itu ketika dia bilang kayak
gitu, apa itu artinya dia mau putus atau gimana. Ketika kita sayang sama pacar,
tapi dia dalam situasi ngerasa jenuh, rasanya tuh kita gak ada nilainya banget
di mata dia. Gue sms gak pernah langsung direspon, walau pun dapet respon Cuma
satu kata doang “iya” atau
“terserah”. Hingga akhirnya dia bilang
mau sendiri dulu, gak tau apa alesannya. Apa ada orang lain yang coba deketin dia dan dia juga gak nolak.
Artinya kehadiran gue pada saat itu Cuma ganggu. Ya udah gue turutin, ngapain
juga gue ngasi perhatian kalo Cuma buat
diacuhin doang, gak ada respon. Perhatian gue mahal, tapi dia balas dengan
begitu murahnya..
Dan gak tau kenapa, nanggepin sikap dia yang seperti itu,gue
jadi ngerasa bosan. Dan jenuh juga. Rasa sayang gue berasa luntur sekarang.
Kita udah beda sekarang. Kamu udah beda, gak kayak dulu
lagi.
Gue dapet satu quote dari Raditya Dika
“Sesabar apapun cewek/cowok, pada akhirnya dia akan merasa
kelelalahan juga jika terus menerus diabaikan”. Itu yang gue rasain, gue capek
dengan semua pengabaian ini, gue pengen lepas. Setidaknya dengan lepas, gue
jadi gak perlu mikirin dia lagi yang sekarang belum tentu lagi mikirin gue.
Lirik dibawah ini mungkin sedikit mewakili.
Kau hidup dengan siapa
Ku tak tahu kau siapa
Kau kekaihku tapi orang lain bagimu
Kau dengan dirimu saja
Kau dengan dunia mu saja
Teruskanlah….teruskanlah
Kau begitu.
Intinya apa? Gue mau nentuin pillihan “, I don’t know if
this is right or wrong, start it thinking of leaving her, but I’m afraid it
might hurt her.” Ya, gue gak tau ini benar apa salah, tapi setidaknya gue udah
bikin keputusan yang bisa bikin kita sama-sama nyaman. toh dia juga sepertinya
menginginkan demikian.
Semua serba bertentangan. Bukannya gue nyerah ngelawan
perbedaan, tapi ini pilihan, dan gue gak mau kita sama-sama menyesal di kemudia
hari.
“Andainya kita terus bersama belum tentu kita bahagia selama
tidak kau rubah cara hidupmu”
Dan gue gak ada hak buat ngerubah cara hidupnya yang seperti
itu adanya. Dalam hati kecil, gue masih sangat sayang sama dia. Gue mau bikin
dia bahagia, dan dengan gue pergi dari kehidupannya mungkin dia bisa lebih
bahagia bersama orang lain yang lebih bisa menjadi Ariel Noah baginya.
Semoga Allah memantapkan hati gue atas pilihan ini. Semoga
tak akan ada sakit atas ini.
(T_T)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar